Titik Balik,-

“Kupikir sebaiknya kita putus saja” katanya pelan. ini adalah kata – kata yang  kutakuti selama berbulan bulan.

Jari jariku yang gemetaran semakin kuat memegang gagang telepon, dan aku menelan kembali isak yang mengancam untuk meledak dari paru paruku yang mengencang. Ada jeda yang cukup lama dan ganjil sesaat dia menungguku bicara. Satu – satunya hal yang ia tidak tau ialah betapa pucat wajahku saat itu.

Hubungan yang tadinya tanpa luka, menyenangkan, dan terlihat tanpa cacat cela ini perlahan berubah menjadi hubungan yang ruwet, mumet! karena sudah melibatkan mereka, ya–orang tua. selain itu, mungkin api cinta kami sudah padam, tidak ada lagi usaha untuk menjaganya tetap menyala, sekalipun disembur oleh belambir berlabelkan restu.

Aku tak mampu berkata, sesak masih terasa. entah bagaimana cara, akhirnya aku bisa mengakhiri pembicaraan tersebut, setidaknya dengan sedikit wibawa. awan mendung keputusasaan memayungiku, aku dikungkung pilu. teduh.

kisah cintaku telah berakhir, akhirnya aku masuk kembali dalam malam malam dimana isak tangis menjadi lagu syahdu penghantar tidurku. aku masuk kembali kedalam masa dimana tidak ada pesan selamat pagi pun selamat malam yang menjadi penyemangat hari, juga pengindah mimpi, seperti berjalan masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan orang orang asing–tanpa tangan yang menggandeng, lengan yang kuat untuk mendukung, memberi rasa aman, nyaman.

Selepas kejadian itu, nasihat, petuah, penghiburan, apalah namanya, membanjiri telinga. seperti biasa, masuk kuping kanan, keluar kuping kiri–dan sebaliknya. Nasihat nasihat itu tak pernah melindungi aku dari patah hati. Ketika mendengar nasihat dari generasi yang lebih muda atau sepantaran usia, aku merasa percuma, karena memang kita berada dalam siklus yang sama, namun untungnya, aku rasa takaran sakit hatiku tak seberapa dibanding mereka. ada yang ditinggal nikah, dan bermacam macam lah.

Tak lama setelah malam malam berpayungkan keputus-asaan akhirnya perlahan aku bangkit dari keterpurukan, catat, aku bilang perlahan.

layaknya bayi yang baru dilahirkan, dari kandungan, tanpa perawat dan harus belajar berjalan sendiri, yang baru berjalan berapa senti, jatuh lagi, bangkit lagi, jalan lagi, berjalan berapa senti, yah! jatuh lagi. sampai akhirnya kini aku bisa berdiri. Berdiri di atas kedua kaki. heemm…bukan berarti tidak pernah jatuh lagi, jatuh sih, iya, tapi tergeletak,ENGGAK!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s